Search

Mati Nikmat

Kita punya hak untuk mati dengan nikmat

Nilai Selewat Percakapan

Awal Juni, ketika matahari sedang terik-teriknya. Libur musim panas memindahkan kesibukan dari jalan raya ke pojok-pojok kota.

Semilir angin berdansa 

Di tengah manusia 

Lupa asa

Anak itu berjalan menyisir pantai. Dengan tas selempang berisi buku catatan dan kelakar Zarathustra. Kalau tak salah ia mencari pohon kelapa atau apapun untuk duduk berteduh.

Menyendiri lah bersama orang-orang

Yang menyendiri

Ucap sahabat di pagi hari Continue reading “Nilai Selewat Percakapan”

Beda yang Sama

Kau menyimpan galaxi di dinginnya mata itu. Dan kurangkum panasnya sahara dalam mata ini.

Setiap tetes manusia di dunia yang datang dan pergi adalah unik. Tak ada yang sama dengan sempurna.

Mungkin itu sebabnya kita selalu berusaha jadi sempurna. Meski dengan cara sedikit lebih unggul dari yang lainnya.

Di dunia yang warasnya adalah berbeda-beda, kesempurnaan mendapat arti memiliki semua yang tersebar di lainnya. Dengan mempertahankan keunikannya sendiri. Continue reading “Beda yang Sama”

​Mati Nikmat: Sebuah Deklarasi

Karena setiap manusia punya hak untuk mati dengan nikmat. Berangkat dari situ, aku menulis.

Banyak slogan kita dengar yang menyatakan mati dengan tenang, mati bahagia, mati sengsara, atau lainnya. Bukan dalam rangka ingin terlihat berbeda, tapi sloganku lahir justru dari sebuah duduk yang lama dan fokus tanpa pikiran tentang manusia lain. Ingin mati dengan nikmat, itu sebuah niat yang serius.

Mati dengan nikmat kulihat–dalam konteks hidup pribadi–sebagai tuntutan bagi keberadaanku. Kenikmatan yang berarti tak diusik perasaan-beban spiritual dan material. Tanpa diintervensi hubungan sosial. Untuk mati tanpa pikiran yang masih menarik kita kembali. Mati dengan perasaan kematian, bukan kehidupan yang akan dilepaskan. Mati tanpa memikirkan kehidupan sebelum kematian dan yang paling penting tanpa dihantui kehidupan setelah kematian.

Mati di saat yang bersamaan dengan kematian. Bisa diartikan juga untuk hidup di saat yang tepat untuk hidup. Continue reading “​Mati Nikmat: Sebuah Deklarasi”

Ke-Indah-an

Entah pernah terjadi atau tidak itu perdebatan soal keindahan. Tapi jutaan opini manusia tak pernah berhenti muncul berusaha menjelaskannya. Dari yang paling formal dan resmi seperti tesis para filsuf atau bahkan sekedar gambar sebait puisi di akun sosmed yang ditulis entah siapa.

Aku pun tak luput dari meramaikan ajang itu. Berkelakar seakan penjabaran, pengenalan, dan pemahamannya soal keindahan adalah yang paling paten dan final.

///

Setiap pagi, siang, sore, dan malam, balkon kamarku adalah bangku VIP untuk memandang sekotak jendela tetangga. Continue reading “Ke-Indah-an”

Antara tahu dan tidak tahu

Teringat sebuah malam di kamar berisi empat orang. Kami bertiga perokok, satu toleran sama rokok. Maksudnya bukan dari aktifis anti-rokok yang bakal bangunin teman perokoknya dengan ceramah dari mulai isu kesehatan, ekonomi, sampai agama.

Biasanya aku tegas mengambil garis perokok dan non-perokok. Penganut mazhab kondisionalis memang harus tunduk pada situasi kondisi. Bukan semau hati atau seenak akal.

Malam itu, posisi duduk, hawa, dan jiwa lagi asik menikmati satu film. Sebuah karya yang bikin mulut tak kuat pingin hisap rokok. Bagi kami para perokok, menghisap lintingan tembakau tidak melulu soal candu. Tapi sering kali soal perasaan, momen, atau bahkan penghambaan. Continue reading “Antara tahu dan tidak tahu”

Gosipin Agama sama Sains dulu, gan

“Aku tak menyembah-Mu untuk menghindari neraka, karena itu ibadah para budak. Aku tak menyembah-Mu untuk mengejar surga, sebab itu ibadah para pedagang. Aku menyembah-Mu karena Kau layak untuk disembah. Inilah ibadah orang yang bebas.”

(Ali The Commander of The Faithful)

Diatas adalah pernyataan super sombong dari seorang yang hidup ribuan tahun lalu.

Continue reading “Gosipin Agama sama Sains dulu, gan”

Sepenggal Kisah Toleransi

Merangkum 5 Bulan 20 Tahun

Sebagai manusia aku pernah pecah. Jatuh ke tanah dan jadi puing berantakan.

Memang Rumi pernah bilang kalau manusia adalah pecahan cermin Tuhan. Saat itu aku terpaksa melupakannya dulu. Kalau pecahan pecah, bagaimana bisa bersatu dengan yang lain jika tidak sempurna.

Dalam pencarian puing-puing diri aku pakai mesin pencari di internet. Katanya sebuah puing menusuk turis bule di pesisir pantai mediterania. Lebih tepatnya, negeri Laban.

Continue reading “Merangkum 5 Bulan 20 Tahun”

Kok nuduh Takdir?

Tidak ada satupun dari kita yang memilih untuk hidup. Seandainya memilih, apakah kita akan tetap memilih hidup?

Selain itu, perkara rahim sampai nama semua bukan pilihan kita. Bahkan sampai umur satu atau dua tahun pakaian tidak kita pilih sendiri. Hanya Musa yang memilih sendiri asinya meski baru lahir.

Lambat laun kita mendewasa.

Sekolah pun dibangun demi mengisi hewan-hewan ini agar menunjukkan kemanusiaannya. Continue reading “Kok nuduh Takdir?”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑