Aku akan berpura-pura menjadi bayi.

Untuk memberi gambaran sesuatu yang murni. Tanpa prasangka hanya rasa penasaran dan ketertarikan yang luar biasa. Untuk mengenal, baru belajar sesuatu darinya.

Untuk mengajari kita menjadi diri sendiri. Sebagai cermin yang menunjukkan betapa kita pernah menjadi calon ilmuwan segala bidang. 

Sekarang? Apakah sudah menjadi atau justru baru mulai mencari?

///

Pada dasarnya kita adalah mahluk yang bebas dalam pikiran. Itu sebabnya kita merasa memperbudak dunia dengan berbuat semaunya. Walau nyatanya, terbang melawan hukum alam pun tak bisa.

Itu juga sebab kita menciptakan hukum-hukum setelah melihat liarnya kebebasan itu. Dan setiap menciptakan hukum, kita juga menciptakan celah di dalamnya. Tak bisa dilawan. Rasa kebebasan itu tertanam sangat dalam dan memerintah tanpa disadari.

Sampai satu saat kutemukan rangkaian peraturan yang ditandatangai Sang Tuhan. Milyaran manusia mematuhinya tanpa beban. Bahkan ketika peraturan itu diakui merenggut kebebasannya.

Ajaib! Aku pun dibelenggu tanpa sadar. Bertahun-tahun tirani bernama keluarga memberi pikiranku makanan tanpa pilihan. Rangkaian aturan yang katanya menuntun menuju perdamaian itu kini menjadi warisan turun-temurun. Yang pada abad ini lebih banyak melahirkan robot dengan program tuhani di dalamnya ketimbang manusia dengan kebebasannya yang suci.

Menyadari ini aku sempat ketakutan. Takut kehilangan harta yang entah kudapat dari siapa. Kebebasan itu sangat mewah di mataku. Apalagi ketika makin sedikit orang yang memilikinya.

Bahkan mereka yang menyebut diri “Front Tak Beragama” pun memiliki agama! Serangkaian visi dan misi yang jadi aturan dalam perlawanannya terhadap agama adalah agama mereka.

Bagiku mereka semua sama, berkompetisi dalam aturan yang kehilangan maknanya. Kutanggalkan belenggu itu dan berjalan perlahan, melihat mereka semua dari belakang.

///

Aku memberi jeda untuk memahami semua aturan itu—sebagian maksudnya. Perlu persetujuan yang berdasar pemahaman untuk merelakan kebebasan ini—walau hanya sedikit. Setidaknya itu caraku.

Diperlukan beberapa kondisi bagi seseorang untuk menyambangi rumah sakit dan mengikuti saran dokter. Pertama ia sakit, kedua ibu sudah tak bisa melakukan apapun. Setelah itu, resep dokter adalah hukum bagi pasiennya.

Apakah aku sakit? Itu jadi pertanyaan.

Pencarian akhirnya kumulai. Entah sampai kapan.

///

Dimana letak bayinya? Sudahlah, lupakan. Waktu adalah sahabatku yang tak mengenal kata mundur.

Sabtu, 14 Januari 2017

Advertisements