Untuk apa merokok?

Itu pertanyaan lucu buatku. Karena ketimbang menjawabnya, aku selalu tertawa.

Untuk apa keliling pasar ber-ac untuk memilih warna dan merk pakaian? Untuk apa bercermin lama-lama? Untuk apa menghabiskan uang banyak makan di warung ber-ac ketika ibu juga memasak? Untuk apa memasang alarm tengah malam untuk kuota malam? Untuk apa membeli waktu berlari di atas mesin ketika bisa berlari di lapangan atau komplek sekitar? Untuk apa bermain game ketika berbincang dengan sesama lebih berkesan?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan kutujukan sebagai perlawanan. Hanya pertanyan yang bagiku masih senada dengan yang pertama.

///

Sekedar ingin cerita, bahwa satu hari di pelataran parkir minimarket, sekotak rokok ini pernah memperkenalkanku dengan satpam yang sedang cari kerja lain.

Sebungkus rokok itu mendaftarkanku pada pusat pembelajaran budaya dan manusia di luar negeri.

Sebatang rokok pernah merubah tetangga berandalku menjadi teman yang begitu ramah dan penuh kasih sayang.

Sebatang korek itu pernah menawarkan kerja temanku di sebuah bis dalam perantauannya.

Sebatang rokok itu mengajarkanku apa arti ibadah—yang lebih dari hubungan manusia terhadap Tuhannya. Dimana ketika perokok menjaga jarak aman dengan non-perokok, di situ manusia tunduk takzim pada perokok yang alim.

Sebatang rokok pernah memecah kekauan dari prasangka, menyambungkanku dengan benang persaudaran yang tak terlihat. Ketika bertukar api, mau tak mau kita berbincang.

Sebatang rokok ini menunjukkan bahwa kita satu. Satu tarikan napas untuk setiap asap yang ingin dihembuskan.

Sebatang rokok ini menemani malam para pencari ketenangan. Entah akibat patah hati, pusing skripsi, atau sekedar penyair yang gundah-gulana menyikapi polemik dunia dengan hati.

Sebatang rokok ini selalu membuatku merasa kaya tanpa membeli segalanya. Ketika kebebasan dan uang yang sedikit dikombinasikan, apalagi untuk sekedar membeli sebungkus atau sekotak rokok.

Sekotak rokok itu meninggikan suara temanku tatkala membela perokok yang terintimidasi, tanpa menjatuhkan martabat dan kenyamanan non-perokok.

Terkandung beragam memori dan rasa persahabatan dalam sebungkus rokok. Khususnya ketika rokokku habis, dan pergi ke kamar sebelah dengan sahabat yang langsung melemparkan kotaknya.

Apa cerita di balik rokokmu? Oiya, kau kan bukan perokok. Nikmatilah.

Minggu, 15 Januari 2017

Advertisements