Sebuah pemandangan yang lebih indah dari Raja Ampat baru saja terbesit dalam pengalamanku.

Seorang pria menarik tubuh wanita yang hampir tertabrak taksi saat hendak menyebrang. Wanita ini menggunakan headset dan menatap ponsel. Dan setelah menyadari posisinya yang terselamatkan dari maut, satu yang ia ucapkan meski tampilannya cukup relijius: terima kasih, tuan!

Pria itu tampak senang atas kegesitannya sendiri dan menyarankan wanita melepas headsetnya.

Ini bukan kisah romansa yang berakhir dengan pernikahan mereka berdua. Ini kisah nyata yang begitu menyenangkan!

Sering sekali aku melihat seseorang yang terselamatkan oleh upaya orang lain, namun memuji Tuhan tiada henti.

Kita boleh saja menjadikan-Nya sebagai harapan tunggal atau pertama jika ada yang kedua, tapi merebut pujian dan budi dari pahlawan tak kesiangan adalah ketidak-adilan manusiawi. Anda akan mencoreng nama baik Tuhan yang Tak Pernah Melakukan Apa-apa. Ia sembunyi di balik kenyataan-Nya dan mendapat pujian dan sembahan yang tak terhitung setiap harinya. Lalu anda membuat ia mengambil satu pujian dan balas budi untuk seonggok manusia yang haus kemuliaan? Ayolah, bahkan koruptor pun masih menyisakan sekian dana agar proyek yang digerogoti berjalan.

///

Salah kaprah. Kita suka salah kaprah jika memberi. Bukan memberi pada yang kurang tapi pada yang kelebihan!

Ini bukan perkara remeh, sebab Tuhan tak pernah menolak sesuatu. Ia terlalu sopan untuk menghancurkan espektasi manusia terhadap-Nya—sekecil apapun itu.

Dan manusia cukup kejam untuk tidak membahagiakan mereka yang baru saja menolongnya—bahkan untuk seutas senyum sekalipun.

Minggu, 15 Januari 2017

Advertisements