Apakah kita benar-benar punya kuasa atas hati?

Satu malam seseorang tak tahan emosinya dan berniat memaki anak muda yang memecah keheningan malam dengan suara motor yang bising. Sampai di pelataran rumah, abg itu langsung teridentifikasi. Ia perhatikan, sambil mengumpulkan semua kosakata yang pantas diterimanya.

Sampai pada titik dimana abg ini tiba-tiba berhenti di sebelah mobil dan parkir begitu saja. Ia perhatikan, dan tahan makian. Waktunya gak pas. Abg itu terlihat asik dan akrab dari cipika-cipikinya dengan pemilik mobil di kursi depan. Dan ber-ulah menahan pintu mobil ketika pengemudi itu mau keluar. Tawa pun pecah menggantikan bising motor beberapa saat tadi.

Semua tingkah laku ini, mengigatkan si calon pemaki pada sahabat-sahabatnya nun jauh disana. Nostalgia membawanya kembali pada sebuah liburan dan mobil bak yang diisi belasan orang. Tawa adalah satu-satunya kata dalam komunikasinya. Sontak benci berubah… apa ya? Rindu? Senang? Berbunga? Apalah pokoknya negasi kemarahan.

Ketimbang mewarnai malam itu dengan ketegangan tetangga, ia malah membakar puntung rokoknya. Mengisi waktu yang kehilangan kantuknya dengan tawa dan alunan musik.

///

Apakah kita punya kuasa atas hati kita?

Ada yang bilang bahwa hati adalah singgasana Tuhan sampai hak prerogatif-Nya. Ada juga yang bilang seratus persen kebalikannya: kendali manusia total.

Tarik ulur soal hati dari dua sudut pandang diatas terputus dari cerita si calon pemaki.

Sebuah memori yang akrab dengan perasaan sering kali merubah haluan hati. Dan pelakunya bukanlah Tuhan juga manusia, tapi siapapun yang ada dalam ingatan.

Seseorang yang membuat hati kita panas bisa saja sekejap mata membuat hati lebih sejuk dari adem sari. Juga sebaliknya.

Hati-hati memasuki ranah hati.

Selasa, 17 Januari 2014

Advertisements