Tulisan tentang penggusuran tak harus ditulis di tkp, bisa aja di angkot pas pulangnya. Begitu juga tulisan tentang gejolak rindu perokok, belum tentu ditulis saat merokok, belum tentu dia perokok, juga belum tentu dihujam rindu!

Sendu itu ketika perokok sendirian di pinggir jalan atau balkon asrama. Tengah malam mengolah rasa menjadi karya. Namun, ditengah tengah malam menjepit rokok di bibirnya tanpa korek yang sanggup menyala. Semua tidur, dan tak ada yang bisa digunakan mengganti api.

Sedih sekali.

Ketika tak ada asap yang menemani, juga suara kretek, bising kendaraan di jalan rumah justru membuat suasana lebih sunyi.

Asap-asap padat itu selalu setia menjauhkan kita dari manusia, khususnya ketika memang ingin sendirian meresapi rasa.

Kesabaran dan ketergesahan sama bagusnya di hadapan keseimbangan. Tanpa ketergesahan kesabaran kehilangan maknanya dan justru bisa jadi petaka. Begitulah rokok memvonis waktu singkat agar tidak terlalu datar. Satu tarikan napas, satu hembusan, dengan tempo yang senikmat-nikmatnya. Penghisapan, pengendapan. Berpikir, merasa.

///

Konon ada kiyai, mungkin anggota NU, yang berucap bahwa bahaya merokok bukan di paru-paru, tapi pikiran pecandunya. Sebab aktivitas sehabis makan atau pas nongkrong itu mengharuskan pelakunya tenang. Dan bayangkan apa yang lebih menakutkan daripada menyalakan rokok di tengah medan perang? Ketika semua berlarian, tapi ia tetap merokok yang mau tak mau diharuskan berjalan. Dengan itu saja cukup menyurutkan arogansi musuh dengan ketenangannya.

///

Dengan cara yang benar, merokok adalah aksi berpuisi dengan gestur dan menghidupi momen.

Di waktu yang tepat, merokok adalah revolusi.

Pada tempatnya, merokok adalah pemujaan altruisme tuhani dan perlawanan terhadap berhala diri.

Pada hakikatnya, merokok adalah cinta kebebasan, melewati keterbatasan kehidupan.

Mati? Matilah seperti rokok yang mengendap di dada, dan tidak pergi kecuali membawa kita bersamanya.

19 Januari 2017

Advertisements