Setelah dua tahun berpisah, akhirnya dua sahabat bertemu kembali.

Di satu kamar yang sesak oleh asap rokok:

“Gue kenal kayaknya tas itu”, temannya yang baru pulang merantau tak mengganti tas selama tiga tahun. Dan dia ingat itu.

“Oiya? Siapa namanya bro?”

“Asep”, becandaan itu diladeni.

“Bukan bego. Gausah sok kenal. Namanya Nuh”

[Hening]

“Nama itu penting, bro”, lanjut pembawa Nuh.

“Kenape?” tanya tuan rumah dengan acuh.

“Gue sejak tinggal di ——- selalu nanya nama orang kalo ngobrol. Kadang mereka heran sama tingkah sok kenal gue. Gue ceramahin abis gitu: bahwa nama bukan sekedar identifikasi. Buat kita, manusia sudah cukup sebagai identifikasi. Sedangkan nama mengandung karakter, memori, harga diri, lebih besar dari sekedar merk. Itu makanya lo jangan sembarangan nyebut nama orang, apalagi nebak”, katanya.

“Huahahahaha, iye iye. Terus apa maksud nama Nuh coba?”, pertanyaan dilanjutkan.

“Nuh ini temen mati gue yang selalu bawa apapun yang gue mau kemanapun. Lo bisa nemu binatang sampe duit di dalemnya. Apapun yang penting demi keberlangsungan hidup gue dalem perjalanan. Bagai bahtera Nuh, yang mengemban misi keberlangsungan kehidupan di dunia…”, jawabnya dengan gestur bercerita sebuah kisah yang mempesona.

[Senyum terlihat, dan tawa ringan terdengar]

Selasa, 17 Januari 2017

Advertisements