Seorang Kanada pernah berkata bahwa Indonesia lebih bebas daripada negara sekaliber Amerika. Eksistensi kita dipinggir jalan dengan modal dan ijasah pas-pasan cukup untuk menghidupi keluarga.

Kita bisa menyebrang dimanapun diinginkan. Merokok dimanapun. Dan olah tanah jadi apapun asal mampu.

Ini warna negara yang mau saya bilang terbaik atau tidak, nyatanya cuma soal lebih terbiasa atau tidak.

Ukuran apa yang mau kita gunakan untuk menilai budaya bermasyarakat dan bernegara bangsa ini? Setiap negara dan masyarakat yang biasa dijadikan contoh itu lahir berdasarkan situasi dan kondisinya sendiri. Lalu, kita yang sudah lahir ini kenapa tidak menjadikan diri sendiri sebagai parameternya?

Negara kita memang krisis percaya diri.

Tentu, banyak perbaikan yang harus dilakukan berdasar sudut pandang kesejahteraan dan kemanusiaan. Tapi apa pentingnya sebuah taman dibanding lingkungan hidup yang kental akan budaya yang unik–khas?

Mereka yang berpikir anak kecil bermain bola di gang sempit berbaju singlet itu memalukan adalah mereka yang memang bukan masyarakat yang lahir dilingkungan itu. Ia lahir di rumah sakit dan tumbuh di komplek mewah, dengan sarapan cartoon network dan pubertas saat menonton high school musical. Keceriaannya sebatas kepingan cd PS3 dan internet yang cepat.

Dunia makin cepat–cepat menggilas segala keunikan manusia di dalamnya.

Kita diminta belajar tinggi-tinggi untuk bisa sampai ke puncak gedung yang mengatur saham-saham bisnis.

Asal tahu saja, kita bahkan tak lagi dilihat sebagai manusia yang ber-pengalaman–dalam artian berperasaan, punya memori, kreatifitas, dan terpenting kebaikan–tapi sebagai pekerja yang mengejar kesempurnaan rekening bank.

Adapun kesempurnaan hidup kini dipersempit dalam ruang keluarga yang serba ada meskipun semua itu sebatas imajinasi saja. Telpon terus berdering dan akhirnya dipaksa menikmatinya dalam harapan dan hayalan.

Geng gerobak nasi goreng yang nongkrong di pertigaan depan rumahku adalah hal yang memang sering mengundang kisah haru perekonomian–namun adalah warna yang juga hanya dimiliki Indonesia.

Pada realitasnya kita adalah manusia yang suka bernostalgia. Kita lebih asik duduk di trotoar bersama kawan lama dan bermain gitar, sambil mendendangkan lagu Rhoma Irama.

Sekarang berkata jaman presiden kelima dan kedua lebih prima.

Nanti akan menjadikan grobak nasi goreng dan siulan tukang putu sebagai monumen sejarah yang tertulis.

Aku tak ingin hidup saat itu. Panjang umurmu nasi goreng spesial.

16 Januari 2017

Advertisements