​Aku tak yakin apakah ada yang benar-benar asli di dunia ini. Maksudnya, orisinil.

Setiap zat di udara adalah kombinasi dari zat-zat lain. Air, udara, tanah, api. Plastik, besi, benang, emas. Semen, sepatu, rokok, komputer. Kertas dan tinta.

Bahkan apa yang ada dipikiran kita. Pemikiran adalah hasil campuran pengalaman, pengamatan, dan renungan. Yang ketiganya tidak muncul begitu saja, selalu terjadi jika ada faktor yang mendukungnya dari luar diri kita. Apalagi memori.

///

Ketika kita merasa menciptakan sesuatu yang baru, mungkin saja itu memang benar-benar baru. Seperti… Sejauh ruang lingkup lingkungan kita, kita yang pertama mengenalkannya. Tapi “sesuatu yang baru” itu pasti terlintas di benak berdasarkan pengalaman, pengamatan, dan renungan. Kembali kepada komponen yang butuh pada kehadiran lainnya.

///

Marx pernah berkata sesuatu, ratusan tahun setelahnya, aku berkata hal yang persis sama–walaupun belum pernah membaca pemikirannya. Kemungkinan besar adalah apa yang kita alami, dan perhatikan saat itu mirip–jika tidak sama.

Aku berkata pada temanku ini semua bukan persoalan jenius. Tapi siapa yang terlebih dulu lahir. Sebab kita semua memiliki kemampuan yang sama dalam mengolah sumber (bahan) untuk menjadi sebuah karya (produk). Hanya pilihan dan waktu, yang membedakannya. Toh segala bahan-bahan itu tidak pernah meninggalkan bumi, hanya paling menyesuaikan bentuknya dengan zaman.

///

Apa yang asli? Entahlah.

Dalam sudut pandang materi mungkin atom–sementara ini.

Dalam sudut pandang ide? Tuhan? Maaf sekali jika kita perhatikan sejarah ide soal Tuhan selalu jadi hasil ketimbang sebab. Dia adalah produk pengalaman, pengamatan, dan renungan. Bahan-bahannya adalah peristiwa, pertanyaan-pertanyaan, dan bahkan beberapa kasus: wanita.

Sabtu, 21 Januari 2017

Advertisements