Lewat kacamata penciptaan, kita menjadi diri kita yang saat ini berdasarkan kesiapan, bukan potensi. Begitu pikirku sebagaimana doktrin yang masih kuamini, bahwa tuhan memberi potensi dan pencapaian adalah pilihan.

Keinginan-keinginan besar dalam hatiku selalu menyeret diri pada pengadilan akal. Kenapa kau belum juga merilis buku? Kenapa kau tidak memiliki pasangan? Kenapa kau tidak menjadi revolusioner meski dalam lingkaran yang terkecil?

Dalam perenungan diri yang sering terjadi–entah dengan congkak atau tidak–aku selalu mengakui bahwa kapasitasku melebihi segala keinginan yang belum tercapai.

Itu sebabnya hari-hari selalu terasa hambar dan menyiksa. Sebab kesadaran menghadapkanku pada impotennya semangat, dan bergejolaknya keinginan.

Apakah keinginan lahir dari potensi yang ada dalam diri kita? Untuk memiliki mimpi yang menuntut diri yang lebih bisa dari sekarang kita butuh harapan. Minimal, ada setitik rasa “bisa” agar kita berpikir untuk maju melakukan hal yang baru.

Lalu dari mana datangnya impotensi ini? Malas adalah kata akhir yang independen. Tapi bisa jadi gengsi, atau malu. Ini soal mental yang punya sejarah di belakangnya.

Alasan-alasan sangat banyak diciptakan manusia untuk menutupi masalah mentalnya. Meski pada akhirnya terjadi pengalihan pencapaian yang berhasil. Tapi dirinya pasti sadar ketika jarak dari potensinya sudah cukup jauh, bahwa pencapaiannya berpondasi kebohongan pada diri sendiri.

Menjadi diri sendiri itu perlu, tapi bukan berarti individualisme akut. Menjadi diri sendiri berarti berjalan sesuai potensi, bukan sekedar keinginan. Dalam jalur ini tak perlu disebut itu masalah-masalah mental. Sebab tidak ada potensi manusia untuk menjatuhkan manusia lainnya–baik aksi yang disengaja ataupun tidak. Semua itu dilakukan oleh iri, benci, dengki, dan sakit hati.

Penyakit hati kita sering kali–untuk tidak mengatakan selalu–mempengaruhi gerak-gerik, respon, dan pola pikir sampai perkataan. Dan hal ini yang menjadi catatan sejarah gengsi atau malu bagi mereka yang tertahan berjalan memenuhi potensinya.

Percaya tak percaya, diakui atau tidak, kita semua saling terhubung. Saling pengaruh dan dipengaruhi.

Ingin tidak ingin, rupanya kita ini human centipide.

Beirut
Senin cerah, 6 Maret

Advertisements