Kebenaran agama saat ini lebih banyak ‘dibuktikan’ ketakutan.

Advokasi oleh akal di hadapan pengadilan realitas mulai miskin proyek. Ketakutan menyuap realita sampai pelaku pemikiran sehingga tak berani menuntut kebebasannya.

///

Tidak ada satupun dari kita yang sanggup memilih keluarga tempat dilahirkan. Dan ketika sudah terjadi, semua sudut pandang pikiran akan ditentukan tempat kita dibesarkan. Agama, menjadi salah satu budaya doktrin turun-temurum yang sangat populer sejak berabad-abad lalu.

Lewat agama, kita hanya mengenal dua wajah tuhan: kejam dan lembut–atau sinonim-sinonimnya. Adakah wajah lainnya? Netral barangkali? Tapi bukankah ia tak ber-wajah?

Sejarah tak hanya mencatat pedang-pedang penaklukan yang menyuburkan agama, tapi narasi panasnya neraka dan tangan besi tuhan pun menjadi tonggak keberagamaan dunia.

Manusia menempuh jaman baru, peradaban dibilang maju, tapi agama masih pakai cara yang dulu.

Sejak jaman dimana manusia gelisah akan makna dan asal kehidupan. Pertanda-pertanda alamiah pun diolah seniman paling kreatif pada masanya menjadi tuhan-tuhan yang berprofesi. Banjir dari tuhan sungai. Panen dari tuhan kesuburan. Dan sekarang, kesusahan hidup dari tuhan yang cemburu.

Ketika para nabi menghadapi rakyatnya yang tak tahu apa itu tesis dan skripsi. Metafora-metafora emosional adalah satu-satunya cara memberadabkan mereka–setidaknya itu klaim tujuan dari agama. Ketakutan menjadi nahkoda agar manusia tetap pada kodratnya yang manusiawi. Boleh dikata strategi itu benar–periodik.

Kubangan emosional itu pun menjalar dalam waktu. Dan sampai kini, agama tetap benar dan tak boleh disalahkan.

Ketika bumi pun terjajah pengetahuan sampai ditelanjangi bulat-bulat, agama tetap digdaya dengan ceteknya pengetahuan atasnya.

Kita tertahan menikahi tuhan dengan mahar rasionalitas yang begitu cemerlang, sebab orang-orang masih takut pada wali tuhan yang memegang kunci neraka.

Akhirnya romansa tuhan dan manusia seperti kisah cinta tahun 80an. Dimana dua insan saling menghindar dan mengejar. Beragama jadi sebuah penghindaran neraka dan pengejaran surga. Meski pada kenyataannya, kemajuan pemikiran dunia membutuhkam dalil-dalil logis agar agama dapat dianggap cukup beken bergabung dalam geng.

///

Kemana jaman sains? Perkembangan peradaban rasanya terlalu jauh untuk umat beragama kekinian.

Pengetahuan takluk dihadapan ketakutan. Tak ayal, begitupun kemanusiaan. Sebab ketakutan yang dipelihara perlahan menggerogoti tubuhnya sendiri. Penindasan atas nama agama; politisasi agama; bahkan atas nama tuhan.

“Apakah mereka tak berpikir?” konon tuhan berkata.

Waktu tanpa masa

Maret 2017

Advertisements