Tidak ada satupun dari kita yang memilih untuk hidup. Seandainya memilih, apakah kita akan tetap memilih hidup?

Selain itu, perkara rahim sampai nama semua bukan pilihan kita. Bahkan sampai umur satu atau dua tahun pakaian tidak kita pilih sendiri. Hanya Musa yang memilih sendiri asinya meski baru lahir.

Lambat laun kita mendewasa.

Sekolah pun dibangun demi mengisi hewan-hewan ini agar menunjukkan kemanusiaannya. Setidaknya itu tujuan sekolah sampai ditemukannya tujuan-tujuan lain dari pendidikan. Seperti kekuasaan dan bisnis, industri. Idenya adalah mengontrol pilihan manusia.

Maju kejenjang pendidikan yang konon lebih tinggi: kuliah. Disini manusia mulai mempersiapkan diri untuk memilih hal spesifik yang berkaitan lebih besar dengan kehidupannya. Umumnya pada masa ini kita sudah dianggap siap lepas ke belantara kehidupan. Belajar lagi bukan hanya untuk hidup mandiri, tapi juga agar perusahaan mau membeli keringat kita nanti. Meski dalam prosesnya jauh dari kata mandiri. Dimana orang tua pun harus gelisah lebih parah ketimbang 12 tahun masa sekolah sebelumnya. Mahal men, kuliah itu high cost. Lagi “belajar untuk sukses”–kata brosur universitas–tapi pengeluarannya berstandar pangeran kerajaan. Tak apa lah, setidaknya kita tetap memilih.

Kemudian lepas wisuda, berseragam yang lebih keren dari buruh, kita bisa terlihat beda kelas dengan lulusan SMA. Tinggal kini pilihan berikutnya ditampilkan: menikah, bekerja, kuliah lagi.

Bekerja sebenarnya pilihan yang logis. Cukup sudah kita minum keringat orang tua. “Aku punya kehidupanku sendiri!”, gila, ini kan manly banget.

Perkara kerja sudah kita angan-angan sejak tahun pertama kuliah. Cita-cita yang setinggi kayangan mulai di-realistis-kan. Lewat pemilihan jurusan dan aktifitas non-akademik.

Namun meski disiapkan untuk memilih, nampaknya masyarakat masih tak rela manusia bebas memilih keyakinan. Setua dan sedewasa apapun orangnya!

Tapi, ada perubahan sepertinya. Sekolah formal yang harusnya membantu orang tua memanusiakan, meng-orang-kan anaknya mulai semaunya. Masa ketimbang menenangkan orang tua malah menjadi beban pikiran?

Lupakan biaya, duit tak boleh selalu dianggap segalanya. Anak diperingkat bawah orang tua merasa gundah. Lalu lalu lalu lalu, dst.

Walhasil 12 tahun menghabiskan waktu demi pendidikan kita akhirnya dilepas untuk memilih. Kuliah atau kerja.

Alhamdulillah, selepas belajar matematika dasar sampai aljabar, bahasa indonesia budi sampai personifikasi, bab cangkok sampai reproduksi, sejarah homosapien sampai pki dan revolusi industri, kini saya bisa dengan bangga menaruh ijasah SMA di meja lowongan kerja PT Astra. Menyewa sebuah kamar dipinggiran jalan tol tak berjembatan. Pesta makan siang bersama rekan kerja berseragam. Moga akhir tahun bisa beli motor saya ya allah amin.

Eh, atau saya pilih kuliah. Lumayan, walau nambah utang semesteran empat tahun setidaknya saya bisa melamar di PT Jasamarga, dengan sewa rumah, di kawasan metropolitan. Yah paling tidak akhir tahun target saya adalah mobil avanza.

Aduhay, indahnya pilihan. Terima kasih tuhan lahirkan saya dalam keadaan merdeka. Bahagia? Hidup aja untung kok minta bahagia.

8 Oktober 2016

 

Advertisements