Sebagai manusia aku pernah pecah. Jatuh ke tanah dan jadi puing berantakan.

Memang Rumi pernah bilang kalau manusia adalah pecahan cermin Tuhan. Saat itu aku terpaksa melupakannya dulu. Kalau pecahan pecah, bagaimana bisa bersatu dengan yang lain jika tidak sempurna.

Dalam pencarian puing-puing diri aku pakai mesin pencari di internet. Katanya sebuah puing menusuk turis bule di pesisir pantai mediterania. Lebih tepatnya, negeri Laban.

Mungkin air mata buayaku di altar pada sebuah malam membuat Tuhan bersimpati. Sampai-sampai pada suatu hari datang tiket lewat jasa kirim barang tapi tak beralamat pengirim. Kuduga itu Tuhan. Memang siapa yang tahu–atau berani menuliskan–alamatnya. Katanya dia tidak bertempat?!

Kuterbang. Melintasi zona waktu dan perbatasan.

Sampai Laban, rupanya kabar itu hoax. Ditulis oleh maniak surga demi menaikkan rating ketenangan yang diklaimnya. Tapi ada hal yang menarik: disini aku bisa mempelajari cara membuat puing. Memang sulit mencari setitik diri di belantara jerami. Jadi tak ada salahnya kupikir, kubuat sendiri.

Sampai sekarang aku belum bisa membuatnya secara utuh, tapi aku bisa melihat di ujung waktu, semua ini akan selesai.

Sedikit saja kubocorkan resep membuat puing-puing itu. Tapi ini bukan satu-satunya, ya. Coba cek di pabrik lain pasti resep dan gaya puingnya berbeda. Kita bisa menyatukannya sebab sempurna adalah lengkap. Lengkap berarti tak kehilangan atau kekurangan apapun yang ada dan berbeda.

Tenang. Ini modal utama. Bagaimanapun ketahananmu dihadapan panasnya api hasrat dan dinginnya pandangan akal, kalau tak bisa menjaga keduanya seimbang pondasi gagal tercipta. Untuk membangun jembatan dua sisi harus ditopang sama rata. Kalau tidak, bagaimana kita berjalan diatasnya dan sampai ke tujuan?

Cermat. Ketajaman pengamatan tidak hanya berguna untuk memilah yang terbaik, tapi juga mengenali yang terburuk. Kadang ketika belanja kebutuhan diri, kita pasti berburu yang bagus kualitasnya. Itu sebab seluas apapun pasar sering tak cukup meski kita telusuri dua-tiga kali. Tapi kalau kita belajar untuk mengenali yang terburuk, disaat-saat tertentu kita bisa mempercepat memilah bahan. Sebab beberapa tingkat diatas terburuk tak jadi masalah. Kita lebih mudah menghargai kebaikan meski dalam kadarnya yang terkecil.

Berani. Berani itu rupanya tak hanya dalam hal-hal yang maju; seperti melawan atau menyerang. Berani bisa juga dipahami dari diam tak bergerak. Dan mundur berkorban atau keluar.

Di pabrik puing-puing itu tiga komponen harus disatukan sebelum dicetak dengan cetakan tak berbentuk. Namum cetakan itu kurang populer. Jadi jangan lupa mengingatkan karyawan disana agar membawakannya untukmu. Sebab kita yang tahu dan mau melengkapi pecahan dalam diri kita. Dan bentuknya seperti apa, kita juga yang tahu, bukan mereka.

Dan terakhir, jangan khawatir. Pabrik ini milik Tuhan. Sebagaimana dia tak bertempat berarti tak bertubuh. Maka jelas ia tak bercelana apalagi berdompet untuk menerima uang bayaran. Semua geratis, atas nama Tuhan yang jadi awal tujuan pembuatan puing: kesempurnaan.

Diary memang bukan untuk umum

Rabu 2.30, 19 April

Advertisements