Karena setiap manusia punya hak untuk mati dengan nikmat. Berangkat dari situ, aku menulis.

Banyak slogan kita dengar yang menyatakan mati dengan tenang, mati bahagia, mati sengsara, atau lainnya. Bukan dalam rangka ingin terlihat berbeda, tapi sloganku lahir justru dari sebuah duduk yang lama dan fokus tanpa pikiran tentang manusia lain. Ingin mati dengan nikmat, itu sebuah niat yang serius.

Mati dengan nikmat kulihat–dalam konteks hidup pribadi–sebagai tuntutan bagi keberadaanku. Kenikmatan yang berarti tak diusik perasaan-beban spiritual dan material. Tanpa diintervensi hubungan sosial. Untuk mati tanpa pikiran yang masih menarik kita kembali. Mati dengan perasaan kematian, bukan kehidupan yang akan dilepaskan. Mati tanpa memikirkan kehidupan sebelum kematian dan yang paling penting tanpa dihantui kehidupan setelah kematian.

Mati di saat yang bersamaan dengan kematian. Bisa diartikan juga untuk hidup di saat yang tepat untuk hidup.

Bisa jadi pengertian “nikmat” ku ini berbeda dari pandangan KBBI. Tapi tak kutemukan kata lain yang lebih pas dari pada nikmat.

Kusebut itu sebagai hak, sebab memilih cara kematian adalah hak. Itu sudah final. Satu paket dengan kehendak bebas ketika lahir seperti memilih merk baju apa yang mau dibeli atau memilih fanatik pada klub agama mana.

Untuk dapat menikmati hak itu aku menulis semua ini dan itu. Mengosongkan segala beban pikiran–baik tentang sesuatu yang akan datang maupun yang telah terjadi. Agar aku dapat hidup saat ini karena ini waktunya hidup, dan nanti bisa mati sebagaimana waktu itu harusnya mati.

Agak mirip memang dengan slogan “mati dengan tenang”. Perbedaannya terletak pada hubungan manusia dengan kematian itu sendiri. Orang mati tenang karena tak punya beban yang ditinggalkan. Atau melihat kepastian akan apa yang ada setelah kematian. Tapi saat momen-momen kematian itu, mereka tak disana bersama kematian. Mereka entah ada di masa lalu bersama kehidupan, atau di masa mendatang bersama apapun itu setelah mati. Makanya aku tak suka itu. Sebagaimana kukatakan di atas, aku ingin hidup ketika itu adalah waktunya hidup. Maka matipun ketika saatnya untuk mati.

Semua kata yang kukerjakan di sini adalah upaya untuk mencapai titik itu. Dan ini tak bertentangan dengan “hidup di saat harus hidup”. Justru menulis beragam pengalaman itu adalah aksi menikmati kehidupan. Yang dimana jika tak kutumpahkan dengan kata-kata, akan mengekang waktu mendatang dengan pikiran dan memori yang meresahkan. Tulisan-tulisan ini berusaha mempertahankan momen dan pemikiran agar tetap pada masanya ketika aku bersamanya.

Jadi, aku akan terus menulis meski hanya aku yang membacanya. Sebab sejak awal tulisan ini memang tentang penulis bukan tentang pembaca. Kalian hanyalah bonus dari sekian bonus-bonus kehidupan.

Tulisan-tulisan ini adalah keharusan untuk menggapai tujuan. Dan caraku memanfaatkan hak untuk hidup dengan nikmat lalu mati dengan nikmat.

Advertisements