Teringat sebuah malam di kamar berisi empat orang. Kami bertiga perokok, satu toleran sama rokok. Maksudnya bukan dari aktifis anti-rokok yang bakal bangunin teman perokoknya dengan ceramah dari mulai isu kesehatan, ekonomi, sampai agama.

Biasanya aku tegas mengambil garis perokok dan non-perokok. Penganut mazhab kondisionalis memang harus tunduk pada situasi kondisi. Bukan semau hati atau seenak akal.

Malam itu, posisi duduk, hawa, dan jiwa lagi asik menikmati satu film. Sebuah karya yang bikin mulut tak kuat pingin hisap rokok. Bagi kami para perokok, menghisap lintingan tembakau tidak melulu soal candu. Tapi sering kali soal perasaan, momen, atau bahkan penghambaan.

Aku ingin merokok tepat di tempatku duduk di hadapan laptop. Tapi, hari sudah malam. Setiap kasur–kecuali milikku–sudah ditiduri pemiliknya. Termasuk si toleran.

Ingin sedikit mengakali kondisi agar rokok-ku tak memprovokasi kenyamanan seseorang. Dengan bertanya sebesar apa masalah asap rokok baginya. Sebab kondisionalis haruslah altruis.

Beberapa menit aku membuat proyeksi dalam pikiran atas beragam kemungkinan jawaban.

#1

“Bro, masalah lo sama asep rokok apa?”

“Biasa aja sih, toh kakak gue ngerokok. Gue udah biasa sama asep rokok. Sama baunya juga. Kenapa? Lo mau ngerokok di sini (dalem kamar)?”

“Iye nih”

“Sikat deh”

Ckrek, ckrek. Suara korek.

#2

“Bro, masalah lo sama asep rokok apa?”

“Gue gasuka baunya.”

“Lo punya penyakit pernapasan?”

“Gak sih. Tapi kalo mau ngerokok mending di luar bro. Selain masalah asep yang susah keluar kamar, tar kalo ada anak yang dateng mereka pasti keganggu. Karena gak banyak yang ngerokok kan di asrama.”

“Oh oke.”

#3

“Bro, masalah lo sama rokok apa?”

“Uuuhhh, pusing gue kalo nyium baunya. Dulu blablabla…” Cerita panjang lebar soal riwayat dia sampe gak cocok sama asep rokok.

“Oke, cukup.”

Sebelum datang yang #4, aku tepis jauh-jauh itu hayalan. Kata seorang tua bijak, hayalan adalah hal yang mudah dan harus dikendalikan. Terdapat manfaat dari imajinasi yang tinggi dan liar, tapi jika tidak dikendalikan, dia lebih merugikan kita dari pada penghianatan kolega. Sebab ia datang dengan panggilan kita, dan dapat menarik jauh kesadaran dari batasnya dengan realitas. Melumpuhkan produktifitas dan aksi nyata yang lebih terasa manfaatnya.

Selain itu, mengetahui kondisi saudara sekamar sampai isu-masalah pribadinya memang bagus sebagai teman. Tapi namanya informasi–pengetahuan membawa banyak beban.

Apalagi jika ternyata jawaban #3 yang keluar, terusik tidurku nanti dengan perasaan bersalah selama beberapa kali merokok di kamar.

Tepat saat itu juga ku-pause dulu itu film. Pergi ke balkon dan memanggil asap. Tanpa perasaan bersalah, tanpa kritikan dan masukan yang mengusik pikiran, tanpa perlu memikirkan orang. Hanya aku, asap, dan memori yang mengasyikkan.

Memang kadang mengetahui itu lebih berat dan melakukan itu lebih ringan.

Advertisements