Entah pernah terjadi atau tidak itu perdebatan soal keindahan. Tapi jutaan opini manusia tak pernah berhenti muncul berusaha menjelaskannya. Dari yang paling formal dan resmi seperti tesis para filsuf atau bahkan sekedar gambar sebait puisi di akun sosmed yang ditulis entah siapa.

Aku pun tak luput dari meramaikan ajang itu. Berkelakar seakan penjabaran, pengenalan, dan pemahamannya soal keindahan adalah yang paling paten dan final.

///

Setiap pagi, siang, sore, dan malam, balkon kamarku adalah bangku VIP untuk memandang sekotak jendela tetangga.

Dengan tirai menutup penuh atau separuh, ataupun terbuka lebar, secercah cahaya kadang menerangi sebuah pemandangan.

Sela-sela tirai atau sekotak jendela itu bercerita tentang kulit putih yang jujur. Tanpa lapisan kimia yang membuat model mengkilap bak porselen. Seonggok daging itu hanya berwarna putih, begitu saja.

Sela-sela tirai atau sekotak jendela itu tak jarang bercerita tentang helai-helai coklat yang lembut. Berkerumun dalam jumlah yang mengagumkan. Menyatukan dirinya dalam gelombang yang panjang dan terkadang kusut. Kadang berserikat dalam sebuah ikatan karet. Warna coklat itu menghantui setiap waktu. Merubah terang siang jadi teduh coklat. Mengganti gelap malam dengan terang kilau coklat.

Sela-sela tirai atau sekotak jendela itu pernah bercerita tentang seraut wajah. Tak seperti patung Cleopatra maupun gambar dua dimensi di majalah Playboy. Mancung hidung itu pastilah sumber teori Pythagoras. Lengkung bibir itu adalah prototipe sofa-sofa IKEA. Warna iris matanya dipandang Tuhan ketika mewarnai galaksi bimasakti. Belum lagi soal kantung mata itu. Ohh, akan mabuk kau mendengar setiap detik waktu yang bekerja sama mempertahankan bayang hitam di bawah mata itu.

Sela-sela tirai dan sekotak jendela itu juga menyampaikan sebuah suara. Suara yang begitu saja. Simpel. Nada alami dari alam manusia tentang kebahagiaan dan ketenangan. Sebuah nada yang memprovokasi Bethoven menulis ulang not-not agar ketulian gagal menghalanginya untuk mendengarkan. “Hahaha” dalam bentuknya paling asli. Sampai membuatku ragu bahwa bayi adalah model asal segala komponen manusia.

Jalan-jalan, trotoar, taksi, kursi kasir, sampai lapangan publik pun sering menceritakan hal serupa.

Semua cerita yang tertulis bahkan yang tak sanggup kutulis ini terkumpul dalam sebuah buku berjudul ….. Apa ya? Aku tak tahu.

Mungkin orang-orang menyebutnya keindahan. Tapi bagiku yang membaca dan mendengar kisah-kisah itu hanya mengenal desahan kepasrahan.

Kursi tak lagi sanggup menahan beban tubuh yang terjatuh kehilangan perhatian sel-sel otak. Lutut pun kehilangan kesadarannya dan buatku terkapar. Hahahahaha, iya. Aku terkapar pasrah hilang daya.

Sungguh indah cerita itu.

Advertisements