Kau menyimpan galaxi di dinginnya mata itu. Dan kurangkum panasnya sahara dalam mata ini.

Setiap tetes manusia di dunia yang datang dan pergi adalah unik. Tak ada yang sama dengan sempurna.

Mungkin itu sebabnya kita selalu berusaha jadi sempurna. Meski dengan cara sedikit lebih unggul dari yang lainnya.

Di dunia yang warasnya adalah berbeda-beda, kesempurnaan mendapat arti memiliki semua yang tersebar di lainnya. Dengan mempertahankan keunikannya sendiri.

Memiliki hal yang orang lain punya ketika mereka tak punya milik kita, jadi tangga menuju tempat yang kita kata: sempurna.

Ironisnya, kita tak mungkin sempurna tanpa yang lainnya. Bagai puzzle yang unik, kesempurnaan gambar terdapat ketika semua bergandengan tangan. Melengkapi, itu kata kuncinya.

Sempurna adalah lengkap.

Jika setiap pecahan kaca mengandung keunikan bentuknya sendiri, dan dengannya kita sudah bisa menikmati satu kata indah, apa jadinya jika semua keindahan berkumpul dan menjadi utuh?

Jika setiap iris adalah miniatur galaksi, padang sahara, koral di samudera atau api yang membara, bayangkan bumi seperti apa ketika mereka bersatu dalam satu pandang mata.

Keunikan kita adalah suatu fenomena langka bagi semesta. Semesta yang takjub pada dirinya sendiri.

Namun Maha Besar Paradoks itu. Kita unik, tapi sama-sama manusia.

Pikiran kita sama. Selera kita sama. Pemandangan kita sama. Pengalaman kita sama. Emosi kita sama.

Tanpa iris mata dan sidik jari, kita adalah kanvas putih raksasa yang tak tersekat tinta.

Kita murni dan bersih, sebabnya bisa dimasuki beragam hal-hal baru dan lain lagi.

Di atas tanah ini kita berbeda. Di dalam jiwa ini kita sama.

Kita adalah perbedaan yang sama. Dan persamaan yang berbeda.

Kita adalah dia dan mereka. Dan mereka adalah dia dan kita.

Aku adalah kamu. Dan kamulah aku.

Advertisements