Awal Juni, ketika matahari sedang terik-teriknya. Libur musim panas memindahkan kesibukan dari jalan raya ke pojok-pojok kota.

Semilir angin berdansa 

Di tengah manusia 

Lupa asa

Anak itu berjalan menyisir pantai. Dengan tas selempang berisi buku catatan dan kelakar Zarathustra. Kalau tak salah ia mencari pohon kelapa atau apapun untuk duduk berteduh.

Menyendiri lah bersama orang-orang

Yang menyendiri

Ucap sahabat di pagi hari

Di bawah pohon rindang yang bukan kelapa, dihamparkannya sebuah kain. Biasanya kain persegi itu dilipat segitiga menjadi syal. Namun panas merubah fungsinya menjadi tikar.

Mulut-mulut berbicara dengan bahasanya

Bukan untuk saling memahami,

tapi mengumumkan keberadaannya

Kalau begitu kupilih diam, ucapnya

Selang beberapa menit Zaratusthra sudah tertelungkup di dada si pemuda. Dan sebuah topi menutup jidat sampai hidung. Dengan kedua tangan tersilang di belakang kepala, siapapun mengira ia tertidur. Namun sebuah telpon genggam terdengar melantunkan musik dengan bahasanya. Sebuah bahasa yang tidak dipahami warga yang berjemur di pantai.

Kau beruntung wahai Majnun!

Dunia menghempaskanmu 

Tanpa perlu kau talak ketenangan semu

Sepasang mata kebetulan lewat di depan anak itu. Ia tertarik. Sebab begitu kontras dengan keceriaan dan keramaian pantai musim panas itu. Liburan panas terasa teduh bukan karena pohonnya. Tapi kenyamanan dan ketenangan yang sedang disaksikan sepasang mata si wanita.

Bumi bergetar

Kota-kota mengganti pagar

Yang selamat berpesta hingar bingar

“Kau sedang apa?” Suara wanita membuat anak itu mengangkat topinya. Tak kenal. “Membaca.” Satu tangan anak itu menunjuk Zaratusthra di dada. “Kau sedang apa?” Pertanyaan itu dibalikkan kepada wanita. “Berjalan.” Ucap wanita masih berdiri.

Tanyakan pada hati

Ketika akal ragu menghakimi

Sebab hati adalah saksi yang tak menerima suap,

Kata Ali

Beberapa detik hanya angin yang terdengar di antara wanita yang berdiri, dan anak yang berbaring. Mereka saling pandang. Anak itu hanya melihat dengan sebelah mata yang tak tertutup topi miring. “Kau mau apa? Jika ingin duduk di sini,” anak itu menunjuk kiri tubuhnya, “Aku akan berhenti membaca dan mulai mendengarkan.” Wanita itu sempat diam, mungkin berpikir. “Tidak,” jawabnya, “Aku akan lanjut berjalan”. “Kalau begitu, silahkan. Lanjutkan.” Jawab anak itu. Ia menggeser topi dan menutupi keseluruhan wajahnya.

Senyum adalah emosi

Tangis juga emosi

Waktu menggilas tanpa tendensi

Advertisements