Terbesit dalam sebuah diskusi lintas sekte tentang betapa kompleksnya manusia. Ini semua di sebabkan keterbatasan kita. Jika para ahli, yang mengecap pendidikan sedemikian panjang dan dalam saja masih berbeda pendapat satu sama lain, kita yang masih otw S1 dan masih bertaqlid dan mengambil pendapat ulama sana-sini bisa apa? Keterbatasan kita dalam mengambil pendapat yang ada dicampur keterbatasan memahami pendapat yang kita pilih ditambah keterbatasan pembuat atau pendapat itu sendiri. Keterbatasan x keterbatasan x keterbatasan = unlimited limitation.

Seringkali dalam sebuah perbincangan, gue berusaha menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan keyakinan dan konsep-konsepnya. 

Itu hal yang lazim sebenernya, dan menurut gue perlu. Setiap orang harus punya landasan (logis) dalam keyakinannya. Maka dari itu keyakinan harus dihajar pertanyaan, untuk kemudian dilakukan pencarian jawaban dari keyakinan tsb. Tapi, jika tanpa pencarian, kita berusaha menjawab, itu jawaban datang dari mana? 

Pun seandainya akhirnya jawaban (hasil perenungan) yang keluar cukup memuaskan, dan masuk akal, pada akhirnya tanpa melakukan pencarian kembali pada sumber-sumber dasar keyakinan tsb, nilai jawaban itu terbatas pada interpretasi pribadi, sebuah pembenaran (yang sebenar dan klik apapun itu, tetap) subjektif. Kemungkinan bahwa jawaban tsb berbeda dengan jawaban keyakinan itu sebenernya tetep ada. Dan bisa jadi bertolak belakang. Dan ketika hal ini terjadi, atau ditemukan, keyakinan kita pastinya melenceng dari label yang kita bawa. Dan jatuhnya, kita adalah plagiator, atau pembajak hak cipta sang pencipta keyakinan. 

Jadi yang mau diutarakan itu opini tentang ideologi atau opini ideologi itu sendiri?

Advertisements