Search

Mati Nikmat

Kita punya hak untuk mati dengan nikmat

Category

abahcomic

Melihat tanpa objek

Terbesit dalam sebuah diskusi lintas sekte tentang betapa kompleksnya manusia. Ini semua di sebabkan keterbatasan kita. Jika para ahli, yang mengecap pendidikan sedemikian panjang dan dalam saja masih berbeda pendapat satu sama lain, kita yang masih otw S1 dan masih bertaqlid dan mengambil pendapat ulama sana-sini bisa apa? Keterbatasan kita dalam mengambil pendapat yang ada dicampur keterbatasan memahami pendapat yang kita pilih ditambah keterbatasan pembuat atau pendapat itu sendiri. Keterbatasan x keterbatasan x keterbatasan = unlimited limitation.

Seringkali dalam sebuah perbincangan, gue berusaha menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan keyakinan dan konsep-konsepnya. 

Itu hal yang lazim sebenernya, dan menurut gue perlu. Setiap orang harus punya landasan (logis) dalam keyakinannya. Maka dari itu keyakinan harus dihajar pertanyaan, untuk kemudian dilakukan pencarian jawaban dari keyakinan tsb. Tapi, jika tanpa pencarian, kita berusaha menjawab, itu jawaban datang dari mana? 

Pun seandainya akhirnya jawaban (hasil perenungan) yang keluar cukup memuaskan, dan masuk akal, pada akhirnya tanpa melakukan pencarian kembali pada sumber-sumber dasar keyakinan tsb, nilai jawaban itu terbatas pada interpretasi pribadi, sebuah pembenaran (yang sebenar dan klik apapun itu, tetap) subjektif. Kemungkinan bahwa jawaban tsb berbeda dengan jawaban keyakinan itu sebenernya tetep ada. Dan bisa jadi bertolak belakang. Dan ketika hal ini terjadi, atau ditemukan, keyakinan kita pastinya melenceng dari label yang kita bawa. Dan jatuhnya, kita adalah plagiator, atau pembajak hak cipta sang pencipta keyakinan. 

Jadi yang mau diutarakan itu opini tentang ideologi atau opini ideologi itu sendiri?

Advertisements

Yang mungkin tentang pendidikan; tanpa riset

Bayangkan jika seorang guru tak diwajibkan menulis angka di lembar ujian murid-muridnya. Jika ia tak diminta menyerahkan daftar angka untuk disematkan dalam rapot atau pengumuman hasil ujian yang akan ditempel di mading sekolah. Mereka hanya diminta menyerahkan laporan dan catatan akan pehamaman atau kelayakan lulus siswanya, yang itu pun takkan diserahkan pada orang tua. Tak ada banding-membandingkan.

Pastinya, setiap guru akan membuka mata dan telinga lebih lebar terhadap muridnya. Pastinya ia akan lebih perhatian pada apa yang didengar dan dilihat muridnya. Ia harus paham betul jalur keluar masuk ilmu ke setiap otak muridnya. Sebab untuk setiap anak, ia bertanggung jawab pada eskalasi intelejensia dan pengetahuan otak mereka. Seorang guru, pasti akan berperilaku lebih seperti orang tua dari pada sekedar kasir minimarket. Tukang hitung yang melihat angka sebagai nilai barang waktu dan informasi yang diserahkannya pada murid a.k.a pembeli.

Anak-anak akan lebih perhatian pada guru sebab guru memberi perhatian yang khusus bagi setiap mereka. Mereka tak malu, tak ada persaingan, tak perlu saling berbohong. Tak ada social sin yang memaksa mereka menghalalkan berbagai cara untuk merasa selamat atau sukses. Mereka akan hadir di kelas dan mendengarkan, menjawab segala pertanyaan yang diberikan dengan sepahamnya. Sebab beda pemahaman tak membuat mereka berada di bawah yang lainnya secara hirarki. Kalo pun ada daftar demikian, berdasarkan kadar pemahaman, mereka tak melihatnya di dinding sekolah dengan daftar berurut dari 1-20. Tak ada alasan untuk malu, bodoh-tak bodoh, tak ada alat ukurnya.

Mereka akan benyak bertanya sebab mereka tak merasakan rasa malu atas ketidak-tahuan. Memangnya datang dari mana rasa malu ketika tidak tahu? Ketika orang tua tak merasa bangga bahkan kecewa ketika melihat anaknya berada di peringkat bawah. Yang diartikan bahwa dia tidak tahu atau tak paham atas apa yang diajarkan gurunya. 

Sistem kecil ini; soal penilaian, berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan, kecerdasan, dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Sebab pendidikan, membentuk setiap orang yang hidup disana. Dan masyarakat, atau negara, ditentukan manusia di dalamnya. Dan sistem yang mengatur jalannya hari, memberi batas fokus pikiran dan gerakan; yang pada gilirannya, menentukan tingkat tekanan pada pikiran.

Ingin Jadi Teroris

Seorang guru berkata: anak itu tak mungkin jadi teroris.

Lucu. Bahkan teroris tak mau jadi sepertinya.

Setiap berita menunjukkan hasrat yang berbeda. Bahkan untuk penjagal berbaju hitam, hasrat mereka ada. Hanya berbeda.

Adakah teroris yang bernyanyi dengan senyap setiap malamnya? Berusaha menangis namun tak pernah bisa.

Mungkin ia terlalu sibuk membunuh dirinya. Hingga tak cukup waktu membunuh manusia tak berdosa.

Anak itu sehari becerita lewat pena-pena. Bahwa ia tak yakin, mana benar mana salah.

Berita-berita hanyalah mengabarkan hal-hal pasti. Pasti benar pasti salah. Dan dia diantaranya.

Baginya itu bukan pujian maupun kutukan. Hanya semilir angin yang tak berbobot sama seperti hari lainnya.

Satu hari ia pernah memuji para teroris bengis. Bahkan iri, akunya.

Hidup yang berwaktu setidaknya punya makna untuk dikejar. Namun hari-harinya hanya duduk diam depan meja belajar.

Tak pernah ada meja kantor yang terisi meski tak satupun absen walau sehari.

Sebab duduk orang-orang adalah terbang. Dan tidur para pekerja adalah mimpi.

Setidaknya, setiap insan punya sesuatu untuk dikejar. 

Dan anak itu, hanya diam tak mendengarkan.

Kepengen

Aku ingin

Aku ingin bangun di pagi cerah

Dengan suara ayam dan ciutan burung di pohon samping rumah

Aku ingin bangun dengan sadar

Sadar bahwa hari ini akan mengasyikkan

Aku ingin bangun

Dengan saluran berita tanpa kabar-kabar kpk

Aku ingin menikmati sarapan itu dengan tenang dan senang

Tenang tanpa berita pemulung yang dirazia Continue reading “Kepengen”

Persimpangan Ombak

Aku mau menjelaskan ini

Kamu melihat itu

Aku mau menjelaskan itu

Kamu melihat ini Continue reading “Persimpangan Ombak”

Nilai Selewat Percakapan

Awal Juni, ketika matahari sedang terik-teriknya. Libur musim panas memindahkan kesibukan dari jalan raya ke pojok-pojok kota.

Semilir angin berdansa 

Di tengah manusia 

Lupa asa

Anak itu berjalan menyisir pantai. Dengan tas selempang berisi buku catatan dan kelakar Zarathustra. Kalau tak salah ia mencari pohon kelapa atau apapun untuk duduk berteduh.

Menyendiri lah bersama orang-orang

Yang menyendiri

Ucap sahabat di pagi hari Continue reading “Nilai Selewat Percakapan”

Beda yang Sama

Kau menyimpan galaxi di dinginnya mata itu. Dan kurangkum panasnya sahara dalam mata ini.

Setiap tetes manusia di dunia yang datang dan pergi adalah unik. Tak ada yang sama dengan sempurna.

Mungkin itu sebabnya kita selalu berusaha jadi sempurna. Meski dengan cara sedikit lebih unggul dari yang lainnya.

Di dunia yang warasnya adalah berbeda-beda, kesempurnaan mendapat arti memiliki semua yang tersebar di lainnya. Dengan mempertahankan keunikannya sendiri. Continue reading “Beda yang Sama”

​Mati Nikmat: Sebuah Deklarasi

Karena setiap manusia punya hak untuk mati dengan nikmat. Berangkat dari situ, aku menulis.

Banyak slogan kita dengar yang menyatakan mati dengan tenang, mati bahagia, mati sengsara, atau lainnya. Bukan dalam rangka ingin terlihat berbeda, tapi sloganku lahir justru dari sebuah duduk yang lama dan fokus tanpa pikiran tentang manusia lain. Ingin mati dengan nikmat, itu sebuah niat yang serius.

Mati dengan nikmat kulihat–dalam konteks hidup pribadi–sebagai tuntutan bagi keberadaanku. Kenikmatan yang berarti tak diusik perasaan-beban spiritual dan material. Tanpa diintervensi hubungan sosial. Untuk mati tanpa pikiran yang masih menarik kita kembali. Mati dengan perasaan kematian, bukan kehidupan yang akan dilepaskan. Mati tanpa memikirkan kehidupan sebelum kematian dan yang paling penting tanpa dihantui kehidupan setelah kematian.

Mati di saat yang bersamaan dengan kematian. Bisa diartikan juga untuk hidup di saat yang tepat untuk hidup. Continue reading “​Mati Nikmat: Sebuah Deklarasi”

Ke-Indah-an

Entah pernah terjadi atau tidak itu perdebatan soal keindahan. Tapi jutaan opini manusia tak pernah berhenti muncul berusaha menjelaskannya. Dari yang paling formal dan resmi seperti tesis para filsuf atau bahkan sekedar gambar sebait puisi di akun sosmed yang ditulis entah siapa.

Aku pun tak luput dari meramaikan ajang itu. Berkelakar seakan penjabaran, pengenalan, dan pemahamannya soal keindahan adalah yang paling paten dan final.

///

Setiap pagi, siang, sore, dan malam, balkon kamarku adalah bangku VIP untuk memandang sekotak jendela tetangga. Continue reading “Ke-Indah-an”

Blog at WordPress.com.

Up ↑