Search

Mati Nikmat

Kita punya hak untuk mati dengan nikmat

Imanku bernama Ketakutan

Kebenaran agama saat ini lebih banyak ‘dibuktikan’ ketakutan.

Advokasi oleh akal di hadapan pengadilan realitas mulai miskin proyek. Ketakutan menyuap realita sampai pelaku pemikiran sehingga tak berani menuntut kebebasannya.

///

Tidak ada satupun dari kita yang sanggup memilih keluarga tempat dilahirkan. Dan ketika sudah terjadi, semua sudut pandang pikiran akan ditentukan tempat kita dibesarkan. Agama, menjadi salah satu budaya doktrin turun-temurum yang sangat populer sejak berabad-abad lalu. Continue reading “Imanku bernama Ketakutan”

Baca ini, Waktu

Oo mentariku di malam hari, kuadukan padamu waktu yang tak tulus bersekutu

Aku terkagum oleh proyeksi masa depannya

Dan kebingungan atas kehampaan eksistensi saat ini

Lalu kecewa melihat kebelakang dalam kubangan kesia-siaan

Jangankan kita bicara soal dunia yang penuh tanda tanya

Juga keadilan yang terus dinantikan kedatangannya

Semua pisau waktu lengkap menusuk punggung dan dadaku

Bagaimanapun tubuh ini adalah duniaku

Yang terperangkap dalam dunia-mu Continue reading “Baca ini, Waktu”

Ingin tidak ingin, kita adalah Centipide

Lewat kacamata penciptaan, kita menjadi diri kita yang saat ini berdasarkan kesiapan, bukan potensi. Begitu pikirku sebagaimana doktrin yang masih kuamini, bahwa tuhan memberi potensi dan pencapaian adalah pilihan.

Keinginan-keinginan besar dalam hatiku selalu menyeret diri pada pengadilan akal. Kenapa kau belum juga merilis buku? Kenapa kau tidak memiliki pasangan? Kenapa kau tidak menjadi revolusioner meski dalam lingkaran yang terkecil?

Dalam perenungan diri yang sering terjadi–entah dengan congkak atau tidak–aku selalu mengakui bahwa kapasitasku melebihi segala keinginan yang belum tercapai.

Continue reading “Ingin tidak ingin, kita adalah Centipide”

Prematur Cinta

Apa yang kita tahu soal cinta selain pengorbanan dan kelemahan?

Jatuh cinta menjadi sebuah kebodohan yang perlahan disadari korbannya. Setidaknya itulah yang kita dapatkan dari beragam pengalaman yang terdengar dan terlihat.

“Dalam cinta terdapat hasrat, sedangkan persahabatan hanya mengenal kedamaian” Continue reading “Prematur Cinta”

Ketika tak bisa beli rokok

Uang adalah kekuatan. Pemikiran ini selain bepengaruh pada dunia perpolitikan manusia sampai ranah terkecil, tapi juga dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Merasa miskin adalah mimpi buruk bagi hampir seluruh manusia. Apalagi ketika seorang perokok tidak punya sepeser pun untuk beli sebatang rokok. Itu adalah parameter bagi dirinya atas kemiskinan. Tak peduli bahwa pada realitasnya, ketiadaan uang itu takkan membuatnya mati kelaparan sebab ia tinggal di rumah orang tua, atau saudara, atau asrama, atau sedang bersama teman-temannya. Pada titik ini bisa dilihat bahwa miskin dirasakan ketika kita tak punya lagi kekuatan—dalam bentuk uang—untuk melakukan kebebasannya, baikpun kebebasan merusak diri atau melawan norma. Continue reading “Ketika tak bisa beli rokok”

KW adalah Ori yang Baru

​Aku tak yakin apakah ada yang benar-benar asli di dunia ini. Maksudnya, orisinil.

Setiap zat di udara adalah kombinasi dari zat-zat lain. Air, udara, tanah, api. Plastik, besi, benang, emas. Semen, sepatu, rokok, komputer. Kertas dan tinta.
Continue reading “KW adalah Ori yang Baru”

Pondasi Keabadian

“Dokter, tolong simpan ini untuk kita berdua. Jangan kabarkan yang sebenarnya bahkan pada kepala sekolah. Saya bukan orang pertama yang anda vonis kan? Anda sudah melihat beragam ekspresi mendapat vonis ini. Saya yakin anda ikut merasakan sakit karenanya. Maka saya mohon, sekali ini, untuk saya, biarkan saya yang megurus semuanya. Tolong.” Continue reading “Pondasi Keabadian”

Malam Tegang

Aku meneleponmu malam itu. Dari rumah beberapa jam setelah pertemuan pertama kita yang sangat tak direncanakan. Maksudnya, siapa sangka bertanya soal letak buku di perpustakaan akan membawa kita pada diskusi hangat di sebuah cafe? Hari yang sama?

Sampai di rumah, aku kembali sendiri. Menatap pintu sebelum memasukkan kunci mengingatkanku pada rutinitas sehari-hari. Sama, tak berubah, pasti.

Kemarin, kebiasaan yang selalu kujalani ini tak berarti apa-apa. Tapi malam itu, rasanya sangat menakutkan.

Continue reading “Malam Tegang”

Merokok adalah Berpuisi

Tulisan tentang penggusuran tak harus ditulis di tkp, bisa aja di angkot pas pulangnya. Begitu juga tulisan tentang gejolak rindu perokok, belum tentu ditulis saat merokok, belum tentu dia perokok, juga belum tentu dihujam rindu!

Sendu itu ketika perokok sendirian di pinggir jalan atau balkon asrama. Tengah malam mengolah rasa menjadi karya. Namun, ditengah tengah malam menjepit rokok di bibirnya tanpa korek yang sanggup menyala. Semua tidur, dan tak ada yang bisa digunakan mengganti api. Continue reading “Merokok adalah Berpuisi”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑