Search

Mati Nikmat

Kita punya hak untuk mati dengan nikmat

Tag

kelakar

​Mati Nikmat: Sebuah Deklarasi

Karena setiap manusia punya hak untuk mati dengan nikmat. Berangkat dari situ, aku menulis.

Banyak slogan kita dengar yang menyatakan mati dengan tenang, mati bahagia, mati sengsara, atau lainnya. Bukan dalam rangka ingin terlihat berbeda, tapi sloganku lahir justru dari sebuah duduk yang lama dan fokus tanpa pikiran tentang manusia lain. Ingin mati dengan nikmat, itu sebuah niat yang serius.

Mati dengan nikmat kulihat–dalam konteks hidup pribadi–sebagai tuntutan bagi keberadaanku. Kenikmatan yang berarti tak diusik perasaan-beban spiritual dan material. Tanpa diintervensi hubungan sosial. Untuk mati tanpa pikiran yang masih menarik kita kembali. Mati dengan perasaan kematian, bukan kehidupan yang akan dilepaskan. Mati tanpa memikirkan kehidupan sebelum kematian dan yang paling penting tanpa dihantui kehidupan setelah kematian.

Mati di saat yang bersamaan dengan kematian. Bisa diartikan juga untuk hidup di saat yang tepat untuk hidup. Continue reading “​Mati Nikmat: Sebuah Deklarasi”

Ketika tak bisa beli rokok

Uang adalah kekuatan. Pemikiran ini selain bepengaruh pada dunia perpolitikan manusia sampai ranah terkecil, tapi juga dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Merasa miskin adalah mimpi buruk bagi hampir seluruh manusia. Apalagi ketika seorang perokok tidak punya sepeser pun untuk beli sebatang rokok. Itu adalah parameter bagi dirinya atas kemiskinan. Tak peduli bahwa pada realitasnya, ketiadaan uang itu takkan membuatnya mati kelaparan sebab ia tinggal di rumah orang tua, atau saudara, atau asrama, atau sedang bersama teman-temannya. Pada titik ini bisa dilihat bahwa miskin dirasakan ketika kita tak punya lagi kekuatan—dalam bentuk uang—untuk melakukan kebebasannya, baikpun kebebasan merusak diri atau melawan norma. Continue reading “Ketika tak bisa beli rokok”

KW adalah Ori yang Baru

​Aku tak yakin apakah ada yang benar-benar asli di dunia ini. Maksudnya, orisinil.

Setiap zat di udara adalah kombinasi dari zat-zat lain. Air, udara, tanah, api. Plastik, besi, benang, emas. Semen, sepatu, rokok, komputer. Kertas dan tinta.
Continue reading “KW adalah Ori yang Baru”

Merokok adalah Berpuisi

Tulisan tentang penggusuran tak harus ditulis di tkp, bisa aja di angkot pas pulangnya. Begitu juga tulisan tentang gejolak rindu perokok, belum tentu ditulis saat merokok, belum tentu dia perokok, juga belum tentu dihujam rindu!

Sendu itu ketika perokok sendirian di pinggir jalan atau balkon asrama. Tengah malam mengolah rasa menjadi karya. Namun, ditengah tengah malam menjepit rokok di bibirnya tanpa korek yang sanggup menyala. Semua tidur, dan tak ada yang bisa digunakan mengganti api. Continue reading “Merokok adalah Berpuisi”

Panjang Umur Nasi Goreng

Seorang Kanada pernah berkata bahwa Indonesia lebih bebas daripada negara sekaliber Amerika. Eksistensi kita dipinggir jalan dengan modal dan ijasah pas-pasan cukup untuk menghidupi keluarga.

Kita bisa menyebrang dimanapun diinginkan. Merokok dimanapun. Dan olah tanah jadi apapun asal mampu.

Ini warna negara yang mau saya bilang terbaik atau tidak, nyatanya cuma soal lebih terbiasa atau tidak. Continue reading “Panjang Umur Nasi Goreng”

Seekor Manusia

Sesekali aku ingin melihat mereka yang berjalan sebagai manusia. Ketika mereka tersenyum saat berpapasan, memalingkan pandangan seperti tak ada apa-apa, mengucap maaf tanpa memperlambat langkahnya, atau sekedar memandang penuh arti sampai tak bisa saling melihat lagi.

Mereka pasti lebih dari sekedar itu. Ada cerita, perasaan, pergulatan pikiran dalam kemarin yang mereka lalui. Continue reading “Seekor Manusia”

Manusia Pembolak-balik Hati

Apakah kita benar-benar punya kuasa atas hati?

Satu malam seseorang tak tahan emosinya dan berniat memaki anak muda yang memecah keheningan malam dengan suara motor yang bising. Sampai di pelataran rumah, abg itu langsung teridentifikasi. Ia perhatikan, sambil mengumpulkan semua kosakata yang pantas diterimanya.

Sampai pada titik dimana abg ini tiba-tiba berhenti di sebelah mobil dan parkir begitu saja. Ia perhatikan, dan tahan makian. Waktunya gak pas. Abg itu terlihat asik dan akrab dari cipika-cipikinya dengan pemilik mobil di kursi depan. Dan ber-ulah menahan pintu mobil ketika pengemudi itu mau keluar. Tawa pun pecah menggantikan bising motor beberapa saat tadi. Continue reading “Manusia Pembolak-balik Hati”

Selinting Persahabatan

Untuk apa merokok?

Itu pertanyaan lucu buatku. Karena ketimbang menjawabnya, aku selalu tertawa.

Untuk apa keliling pasar ber-ac untuk memilih warna dan merk pakaian? Untuk apa bercermin lama-lama? Untuk apa menghabiskan uang banyak makan di warung ber-ac ketika ibu juga memasak? Untuk apa memasang alarm tengah malam untuk kuota malam? Untuk apa membeli waktu berlari di atas mesin ketika bisa berlari di lapangan atau komplek sekitar? Untuk apa bermain game ketika berbincang dengan sesama lebih berkesan? Continue reading “Selinting Persahabatan”

Kelebihan Tuhan

Sebuah pemandangan yang lebih indah dari Raja Ampat baru saja terbesit dalam pengalamanku.

Seorang pria menarik tubuh wanita yang hampir tertabrak taksi saat hendak menyebrang. Wanita ini menggunakan headset dan menatap ponsel. Dan setelah menyadari posisinya yang terselamatkan dari maut, satu yang ia ucapkan meski tampilannya cukup relijius: terima kasih, tuan! Continue reading “Kelebihan Tuhan”

Blog at WordPress.com.

Up ↑