Search

Mati Nikmat

Kita punya hak untuk mati dengan nikmat

Tag

lagi mabok

Ingin Jadi Teroris

Seorang guru berkata: anak itu tak mungkin jadi teroris.

Lucu. Bahkan teroris tak mau jadi sepertinya.

Setiap berita menunjukkan hasrat yang berbeda. Bahkan untuk penjagal berbaju hitam, hasrat mereka ada. Hanya berbeda.

Adakah teroris yang bernyanyi dengan senyap setiap malamnya? Berusaha menangis namun tak pernah bisa.

Mungkin ia terlalu sibuk membunuh dirinya. Hingga tak cukup waktu membunuh manusia tak berdosa.

Anak itu sehari becerita lewat pena-pena. Bahwa ia tak yakin, mana benar mana salah.

Berita-berita hanyalah mengabarkan hal-hal pasti. Pasti benar pasti salah. Dan dia diantaranya.

Baginya itu bukan pujian maupun kutukan. Hanya semilir angin yang tak berbobot sama seperti hari lainnya.

Satu hari ia pernah memuji para teroris bengis. Bahkan iri, akunya.

Hidup yang berwaktu setidaknya punya makna untuk dikejar. Namun hari-harinya hanya duduk diam depan meja belajar.

Tak pernah ada meja kantor yang terisi meski tak satupun absen walau sehari.

Sebab duduk orang-orang adalah terbang. Dan tidur para pekerja adalah mimpi.

Setidaknya, setiap insan punya sesuatu untuk dikejar. 

Dan anak itu, hanya diam tak mendengarkan.

Advertisements

Persimpangan Ombak

Aku mau menjelaskan ini

Kamu melihat itu

Aku mau menjelaskan itu

Kamu melihat ini Continue reading “Persimpangan Ombak”

Beda yang Sama

Kau menyimpan galaxi di dinginnya mata itu. Dan kurangkum panasnya sahara dalam mata ini.

Setiap tetes manusia di dunia yang datang dan pergi adalah unik. Tak ada yang sama dengan sempurna.

Mungkin itu sebabnya kita selalu berusaha jadi sempurna. Meski dengan cara sedikit lebih unggul dari yang lainnya.

Di dunia yang warasnya adalah berbeda-beda, kesempurnaan mendapat arti memiliki semua yang tersebar di lainnya. Dengan mempertahankan keunikannya sendiri. Continue reading “Beda yang Sama”

Ke-Indah-an

Entah pernah terjadi atau tidak itu perdebatan soal keindahan. Tapi jutaan opini manusia tak pernah berhenti muncul berusaha menjelaskannya. Dari yang paling formal dan resmi seperti tesis para filsuf atau bahkan sekedar gambar sebait puisi di akun sosmed yang ditulis entah siapa.

Aku pun tak luput dari meramaikan ajang itu. Berkelakar seakan penjabaran, pengenalan, dan pemahamannya soal keindahan adalah yang paling paten dan final.

///

Setiap pagi, siang, sore, dan malam, balkon kamarku adalah bangku VIP untuk memandang sekotak jendela tetangga. Continue reading “Ke-Indah-an”

Prematur Cinta

Apa yang kita tahu soal cinta selain pengorbanan dan kelemahan?

Jatuh cinta menjadi sebuah kebodohan yang perlahan disadari korbannya. Setidaknya itulah yang kita dapatkan dari beragam pengalaman yang terdengar dan terlihat.

“Dalam cinta terdapat hasrat, sedangkan persahabatan hanya mengenal kedamaian” Continue reading “Prematur Cinta”

Pondasi Keabadian

“Dokter, tolong simpan ini untuk kita berdua. Jangan kabarkan yang sebenarnya bahkan pada kepala sekolah. Saya bukan orang pertama yang anda vonis kan? Anda sudah melihat beragam ekspresi mendapat vonis ini. Saya yakin anda ikut merasakan sakit karenanya. Maka saya mohon, sekali ini, untuk saya, biarkan saya yang megurus semuanya. Tolong.” Continue reading “Pondasi Keabadian”

Malam Tegang

Aku meneleponmu malam itu. Dari rumah beberapa jam setelah pertemuan pertama kita yang sangat tak direncanakan. Maksudnya, siapa sangka bertanya soal letak buku di perpustakaan akan membawa kita pada diskusi hangat di sebuah cafe? Hari yang sama?

Sampai di rumah, aku kembali sendiri. Menatap pintu sebelum memasukkan kunci mengingatkanku pada rutinitas sehari-hari. Sama, tak berubah, pasti.

Kemarin, kebiasaan yang selalu kujalani ini tak berarti apa-apa. Tapi malam itu, rasanya sangat menakutkan.

Continue reading “Malam Tegang”

Merokok adalah Berpuisi

Tulisan tentang penggusuran tak harus ditulis di tkp, bisa aja di angkot pas pulangnya. Begitu juga tulisan tentang gejolak rindu perokok, belum tentu ditulis saat merokok, belum tentu dia perokok, juga belum tentu dihujam rindu!

Sendu itu ketika perokok sendirian di pinggir jalan atau balkon asrama. Tengah malam mengolah rasa menjadi karya. Namun, ditengah tengah malam menjepit rokok di bibirnya tanpa korek yang sanggup menyala. Semua tidur, dan tak ada yang bisa digunakan mengganti api. Continue reading “Merokok adalah Berpuisi”

Blog at WordPress.com.

Up ↑