Search

Mati Nikmat

Kita punya hak untuk mati dengan nikmat

Tag

tuhan

Melihat tanpa objek

Terbesit dalam sebuah diskusi lintas sekte tentang betapa kompleksnya manusia. Ini semua di sebabkan keterbatasan kita. Jika para ahli, yang mengecap pendidikan sedemikian panjang dan dalam saja masih berbeda pendapat satu sama lain, kita yang masih otw S1 dan masih bertaqlid dan mengambil pendapat ulama sana-sini bisa apa? Keterbatasan kita dalam mengambil pendapat yang ada dicampur keterbatasan memahami pendapat yang kita pilih ditambah keterbatasan pembuat atau pendapat itu sendiri. Keterbatasan x keterbatasan x keterbatasan = unlimited limitation.

Seringkali dalam sebuah perbincangan, gue berusaha menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan keyakinan dan konsep-konsepnya. 

Itu hal yang lazim sebenernya, dan menurut gue perlu. Setiap orang harus punya landasan (logis) dalam keyakinannya. Maka dari itu keyakinan harus dihajar pertanyaan, untuk kemudian dilakukan pencarian jawaban dari keyakinan tsb. Tapi, jika tanpa pencarian, kita berusaha menjawab, itu jawaban datang dari mana? 

Pun seandainya akhirnya jawaban (hasil perenungan) yang keluar cukup memuaskan, dan masuk akal, pada akhirnya tanpa melakukan pencarian kembali pada sumber-sumber dasar keyakinan tsb, nilai jawaban itu terbatas pada interpretasi pribadi, sebuah pembenaran (yang sebenar dan klik apapun itu, tetap) subjektif. Kemungkinan bahwa jawaban tsb berbeda dengan jawaban keyakinan itu sebenernya tetep ada. Dan bisa jadi bertolak belakang. Dan ketika hal ini terjadi, atau ditemukan, keyakinan kita pastinya melenceng dari label yang kita bawa. Dan jatuhnya, kita adalah plagiator, atau pembajak hak cipta sang pencipta keyakinan. 

Jadi yang mau diutarakan itu opini tentang ideologi atau opini ideologi itu sendiri?

Advertisements

Merangkum 5 Bulan 20 Tahun

Sebagai manusia aku pernah pecah. Jatuh ke tanah dan jadi puing berantakan.

Memang Rumi pernah bilang kalau manusia adalah pecahan cermin Tuhan. Saat itu aku terpaksa melupakannya dulu. Kalau pecahan pecah, bagaimana bisa bersatu dengan yang lain jika tidak sempurna.

Dalam pencarian puing-puing diri aku pakai mesin pencari di internet. Katanya sebuah puing menusuk turis bule di pesisir pantai mediterania. Lebih tepatnya, negeri Laban.

Continue reading “Merangkum 5 Bulan 20 Tahun”

Imanku bernama Ketakutan

Kebenaran agama saat ini lebih banyak ‘dibuktikan’ ketakutan.

Advokasi oleh akal di hadapan pengadilan realitas mulai miskin proyek. Ketakutan menyuap realita sampai pelaku pemikiran sehingga tak berani menuntut kebebasannya.

///

Tidak ada satupun dari kita yang sanggup memilih keluarga tempat dilahirkan. Dan ketika sudah terjadi, semua sudut pandang pikiran akan ditentukan tempat kita dibesarkan. Agama, menjadi salah satu budaya doktrin turun-temurum yang sangat populer sejak berabad-abad lalu. Continue reading “Imanku bernama Ketakutan”

Manusia Pembolak-balik Hati

Apakah kita benar-benar punya kuasa atas hati?

Satu malam seseorang tak tahan emosinya dan berniat memaki anak muda yang memecah keheningan malam dengan suara motor yang bising. Sampai di pelataran rumah, abg itu langsung teridentifikasi. Ia perhatikan, sambil mengumpulkan semua kosakata yang pantas diterimanya.

Sampai pada titik dimana abg ini tiba-tiba berhenti di sebelah mobil dan parkir begitu saja. Ia perhatikan, dan tahan makian. Waktunya gak pas. Abg itu terlihat asik dan akrab dari cipika-cipikinya dengan pemilik mobil di kursi depan. Dan ber-ulah menahan pintu mobil ketika pengemudi itu mau keluar. Tawa pun pecah menggantikan bising motor beberapa saat tadi. Continue reading “Manusia Pembolak-balik Hati”

Kelebihan Tuhan

Sebuah pemandangan yang lebih indah dari Raja Ampat baru saja terbesit dalam pengalamanku.

Seorang pria menarik tubuh wanita yang hampir tertabrak taksi saat hendak menyebrang. Wanita ini menggunakan headset dan menatap ponsel. Dan setelah menyadari posisinya yang terselamatkan dari maut, satu yang ia ucapkan meski tampilannya cukup relijius: terima kasih, tuan! Continue reading “Kelebihan Tuhan”

Blog at WordPress.com.

Up ↑